Pembangunan SDM Indonesia dilakukan dalam kerangka siklus hidup manusia
yang dimulai dari dalam kandungan sampai lanjut usia, oleh karena itu intervensi
pelayanan sosial dasar perlu dilakukan sesuai dengan siklus tersebut. Salah
satu tahap yang amat penting adalah tahap janin sampai anak masih berusia dini
yaitu 0-6 tahun. Pada tahap ini tumbuh kembang anak berlangsung secara pesat
dan bila anak dapat tumbuh kembang optimal karena anak merupakan aset dan potensi di masa depan yang akan menyejahterakan bangsa. Oleh sebab itu pendekatan
pelaksanaan pembangunan perlu menjadi peduli atau ramah bagi anak, sehingga
upaya peningkatan kesejahteraan terarustamakan ke dalam seluruh program
pembangunan yang berkait. Pengasuhan dan Pengembangan Anak Usia Dini secara
menyeluruh mencakup kesehatan dasar, gizi, dan pengembangan emosi serta
intelektual anak perlu diperhatikan secara baik, karena amat menentukan
perjalanan hidupnya.
Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat
penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial,
yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama
untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan
apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan
tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna, yaitu
promotif, preventif, dan rehabilitatif akan memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak selanjutnya.
Pendidikan anak usia dini harus memperhatikan tahap perkembangan anak. Pendidikan
anak usia dini memiliki berbagai metode pembelajaran yang berbeda satu sama
lain (Megawangi, 2005, dkk: 47). Metode pembelajaran hendaknya tidak
dimaksudkan mencuri start mengenai apa yang seharusnya diperoleh pada
jenjang pendidikan sekolah dasar, melainkan untuk memfasilitasi pendidikan yang
sesuai bagi anak, agar anak pada saatnya memiliki kesiapan baik secara fisik,
mental, maupun sosial/emosional dalam rangka memasuki pendidikan lebih lanjut
(Departemen Pendidikan Nasional, 2006). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
penyelenggaraan PAUD masih belum mengacu betul dengan tahap-tahap perkembangan
anak. Pada umumnya penyelenggaraan difokuskan pada peningkatan kemampuan
akademik, baik dalam hal hafalan-hafalan maupun kemampuan baca, tulis, hitung
yang prosesnya seringkali mengabaikan tahapan perkembangan anak (Departemen
Pendidikan Nasional, 2006).
Salah satu metode pembelajaran yang berusaha
memperhatikan tahap perkembangan anak adalah metode fun learning. Metode
fun learning adalah bentuk kegiatan meraih ilmu dengan cara sangat
menyenangkan tanpa ada unsur paksaan, sehingga proses belajar mengajar
dilakukan dengan “bermain sambil belajar”. Kegiatan ini dirancang dengan
memperhatikan psikologi perkembangan anak, sehingga dapat menghilangkan
kejemuan anak dalam menjalankan rutinitas belajarnya sehari-hari. Pelaksanaan metode fun
learning dilakukan dengan beragam aktivitas, baik dalam pemilihan waktu,
tempat, penataan suasana hingga pemakaian metode pembelajaran (Tim biMBA AIUEO,
2011: 30-31)
Metode fun learning berusaha memberikan suasana nyaman bagi anak
usia dini sehingga meningkatkan MINAT belajar anak dan kesiapan sekolah dibandingkan
dengan metode pembelajaran yang terlalu menuntut anak dari segi akademik. Jika anak sudah ditanamkan MINAT belajar sejak dini maka tidaklah sulit membentuk karakter pembelajar dalam diri anak, bahkan mereka akan menjadikan setiap tempat sebagai sarana belajar. Bagi mereka, belajar sama alaminya dengan bernafas.
Belajar adalah suatu aktivitas yang di dalamnya terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja. Proses perubahan dalam belajar menuju ke arah tujuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. mendengarkan, memahami, mengintropeksi diri juga termasuk belajar lho...
PUSTAKA
Griffith, Mary. 2012. Home Schooling : mennjadikan setiap tempat sebagai sarana belajar. Bandung : Nuansa Cendekia
Tim biMBA AIUEO, 2011. Pedoman Umum Penyelenggaran Pos PAUD. Yayasan Pengembangan Anak Indonesia: AIUEO Press
Suparlan. 2004. Mencerdaskan kehidupan bangsa, dari Konsepsi Sampai dengan Implementasi. Yogyakarta : Hikayat
Syah, M. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Cetakan kelima. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
